Tag Archives: Sri Baduga Maharaja

Runtuhnya Kerajaan Sunda Galuh Menurut Naskah Kuno

Runtuhnya Kerajaan Sunda Galuh Menurut Naskah Kuno

Berbicara tentang Kerajaan Sunda Galuh bukan sekadar membahas tentang silsilah raja-raja yang pernah berkuasa di tanah Pasundan, melainkan tentang sebuah identitas yang tetap hidup meski kekuasaannya telah tiada. Bagi Anda para mahasiswa sejarah atau pegiat literasi kuno, memahami keruntuhan kerajaan ini bagaikan menyusun kepingan puzzle yang tersebar di antara mitos dan fakta sejarah. Naskah-naskah kuno memberikan kita petunjuk bahwa runtuhnya sebuah peradaban besar jarang sekali disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan akumulasi dari tekanan eksternal dan pergeseran ideologi.

Banyak sejarawan sepakat bahwa masa keemasan Sunda Galuh mencapai puncaknya di bawah kepemimpinan Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja). Namun, kebesaran tersebut mulai goyah ketika roda zaman berputar menuju abad ke-16. Di sinilah naskah kuno menjadi sumber primer yang sangat berharga untuk memetakan bagaimana sebuah entitas politik yang sangat kuat di Jawa bagian barat akhirnya harus “melepas” mahkotanya. Kita akan melihat bagaimana strategi politik, penyebaran agama baru, dan perebutan pengaruh di jalur perdagangan menjadi katalis utama berakhirnya era kerajaan Hindu-Budha di tanah ini.

Bagi mahasiswa, memahami sejarah ini bukan untuk meratapi masa lalu, melainkan untuk melihat bagaimana proses transisi kekuasaan terjadi secara dramatis. Melalui gaya bercerita yang santai, kita akan membedah naskah Carita Parahyangan yang secara implisit menggambarkan keresahan para penguasa terakhir Sunda saat menghadapi perubahan zaman yang tak terelakkan. Mari kita telusuri jejak-jejak terakhir dari kejayaan Pajajaran dan Galuh yang kini terkubur di balik rimbunnya narasi sejarah.

Jejak Konflik Internal dan Pembagian Wilayah

Dalam naskah Carita Parahyangan, seringkali digambarkan betapa dinamisnya hubungan antara Sunda dan Galuh. Meski sering dianggap satu kesatuan, kedua wilayah ini kerap mengalami pasang surut hubungan diplomatik. Pembagian wilayah yang terkadang tumpang tindih antara kekuasaan di Pakuan (Sunda) dan Kawali (Galuh) menciptakan kerentanan struktural. Ketegangan internal, meski sering diredam oleh pernikahan politik, tetap menyisakan celah yang bisa dimanfaatkan oleh kekuatan luar yang sedang tumbuh.

Ketidakstabilan ini diperparah ketika suksesi kepemimpinan tidak berjalan mulus setelah wafatnya raja-raja besar. Naskah kuno mencatat adanya pergeseran fokus pembangunan yang tadinya pada kesejahteraan rakyat dan spiritualitas, menjadi lebih bersifat defensif. Mahasiswa sejarah perlu mencatat bahwa saat pusat kekuatan terbagi, koordinasi militer dan ekonomi menjadi melambat. Hal ini sangat krusial mengingat saat itu kekuatan baru dari arah pesisir utara mulai membangun kekuatan yang sangat masif.

Secara praktis, pembagian kekuasaan ini memang dimaksudkan untuk menjaga stabilitas, namun dalam jangka panjang justru melemahkan persatuan. Ketika sebuah kerajaan besar memiliki “dua matahari”, maka loyalitas para menak (bangsawan) di daerah pinggiran sering kali goyah. Inilah yang menjadi salah satu titik awal mengapa Kerajaan Sunda Galuh mulai kehilangan cengkeramannya atas wilayah-wilayah strategis di luar pusat pemerintahan.

Tekanan Kekuatan Pesisir dan Pergeseran Agama

Salah satu poin paling krusial dalam sejarah runtuhnya Kerajaan Sunda Galuh adalah munculnya Kesultanan Banten dan Cirebon sebagai kekuatan baru. Naskah kuno menggambarkan periode ini sebagai masa transisi yang penuh tekanan. Penyebaran Islam yang sangat masif di pesisir utara Jawa mengubah peta geopolitik secara radikal. Jalur perdagangan yang tadinya dikuasai oleh pelabuhan-pelabuhan Sunda seperti Kalapa dan Banten, satu per satu mulai jatuh ke tangan pengaruh kesultanan Islam yang didukung oleh kekuatan Demak.

Bagi sejarawan, jatuhnya Pelabuhan Sunda Kalapa pada tahun 1527 oleh pasukan Fatahillah adalah lonceng kematian bagi ekonomi kerajaan. Tanpa akses ke perdagangan laut, kerajaan yang berpusat di pedalaman ini kehilangan sumber pendapatan utamanya. Naskah-naskah lokal menceritakan bagaimana pusat pemerintahan di Pakuan Pajajaran semakin terisolasi. Pergeseran keyakinan dari Hindu-Budha ke Islam juga membuat basis dukungan rakyat terhadap raja yang dianggap sebagai titisan dewa perlahan mulai memudar.

Dinamika ini tidak hanya terjadi di medan perang, tapi juga di ruang-ruang ideologi. Para sejarawan mencatat bahwa banyak anggota keluarga kerajaan dan bangsawan tinggi yang akhirnya memilih untuk memeluk agama baru, baik karena tekanan politik maupun pilihan spiritual. Hal ini menciptakan disintegrasi sosial yang sangat dalam. Sunda Galuh tidak hanya runtuh secara militer, tapi juga mengalami “runtuh dari dalam” karena fondasi sosial-budayanya telah berubah total.

Detik-Detik Terakhir: Penyerbuan Maulana Yusuf

Puncak dari drama sejarah ini terjadi pada tahun 1579, sebuah angka tahun yang sangat sakral dalam historiografi Sunda. Berdasarkan sumber sejarah dan tradisi lisan yang terekam dalam naskah, pasukan Kesultanan Banten di bawah pimpinan Maulana Yusuf melakukan serangan terakhir ke ibu kota Pakuan Pajajaran. Serangan ini bukan sekadar upaya penaklukan wilayah, tetapi juga simbolisasi berakhirnya sebuah tatanan lama. Penyerbuan ini digambarkan sangat masif hingga benteng-benteng pertahanan yang selama ini dianggap tak tertembus akhirnya runtuh.

Salah satu momen simbolis yang dicatat adalah diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana (singgasana batu tempat penobatan raja) dari Pakuan ke Banten. Tindakan ini secara politis berarti bahwa tidak akan ada lagi penobatan raja Sunda di masa depan, karena kursi kekuasaannya telah berpindah tangan. Bagi mahasiswa, tindakan Maulana Yusuf ini adalah strategi komunikasi politik yang cerdas di masanya—menghilangkan legitimasi kekuasaan lama untuk membangun otoritas yang baru.

Pasca penyerbuan tersebut, naskah kuno menggambarkan suasana yang sunyi. Para penduduk yang setia ada yang melarikan diri ke pegunungan (yang kemudian menjadi cikal bakal masyarakat Baduy), sementara yang lain berbaur dengan tatanan masyarakat baru. Keruntuhan Kerajaan Sunda Galuh adalah penutup babak klasik dalam sejarah Jawa Barat, sekaligus pembuka tirai bagi era kesultanan dan kolonialisme yang akan datang. Sejarah ini mengajarkan kita bahwa sehebat apa pun sebuah peradaban, ia harus selalu bersiap menghadapi perubahan zaman.